Sejarah Herbarium Bandungense

Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung merupakan herbarium khusus dengan kategori pendidikan seperti yang terdapat di lembaga penelitian atau perguruan tinggi lainnya. Herbarium Bandungense dirintis oleh sekelompok orang Belanda pencinta dunia tumbuh-tumbuhan, diantaranya adalah Sicco Martinus Popta. Pengumpulan spesimen mulai dilakukan pada sekitar tahun 1940-an. Kemudian pada tahun 1949 Herbarium Bandungense resmi berdiri.

Saat ini memiliki koleksi sekitar 14.000 spesimen dan telah tercatat di Index Herbariorum, sejak edisi pertama dan tercantum dengan kode Bandung (FIPIA) dengan status \'University Herbarium\'

Herbarium Bandungense merupakan salah satu herbarium tertua di Indonesia setelah Herbarium Bogoriense di Bogor. Berbagai bentuk spesimen seperti bunga, buah kering dan kayu kering tersimpan dengan baik di sini. Koleksi spesimen ini sebagian besar dari berbagai tempat di Indonesia, terutama Pulau Jawa. Beberapa spesimen berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Barat, dan Bali. Ada beberapa spesimen yang berasal dari mancanegara yang merupakan hasil koleksi pribadi maupun hadiah, diantaranya dari Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Swiss, Australia, dan Kanada. Beberapa koleksi yang penting tercatat dari para ahli botani Bakhuiizen van den Brink, C.G.G.J. Van Steenis, J.H Kern, W. Meijer, J.H.F. Neubauer, Max van Balgooy, Soeriaatmadja, dan Apandi.

Beberapa murid S.M. Popta, yaitu Apandi, Eman Abdurahman, dan Didih R. Galih meneruskan pengelolaan Herbarium Bandungense sampai mereka pensiun.

Herbarium Bandungense saat ini dikelola oleh, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB dengan pengelola Dr. Rina Ratnasih. Kurator Herbarium/ pelaksana harian Drs. Djuandi.